Kamis, 07 April 2011

Pembersihan Everest Dimulai Hari Ini

Bagikan ke Teman:
Sebuah tim ekspedisi akan menelusuri jalur pendakian gunung Everest untuk misi bersih-bersih. Dilaporkan, mereka akan membawa turun hingga berton-ton sampah yang tertinggal di gunung tertinggi di dunia tersebut.


Tim pendaki yang dipimpin oleh Apa, seorang Sherpa pemecah rekor 20 kali mendaki Everest, akan mulai mendaki pada hari ini, Rabu, 6 April 2011. Mereka ditargetkan membersihkan Everest dari sampah yang diduga seberat hingga lima ton.

Dilansir dari laman Associated Press, Sebanyak empat ton dari sampah tersebut akan dibersihkan dari kaki gunung hingga ke pertengahan jalur pendakian. Sedangkan satu ton sisanya akan diambil dari dekat puncak Everest.

Untuk setiap kilogram sampah yang mereka bawa turun, pemerintah Nepal memberikan bayaran sebesar 100 rupee atau sekitar Rp12.000. Tidak disebutkan berapa lama misi pembersihan ini akan dilakukan, namun Apa mengaku ikhlas melakukannya.

"Saya melakukan ini demi negara saya, rakyat saya dan untuk Everest," ujar Apa.

Sejak gunung Everest terbuka untuk ditaklukkan oleh publik pada 1953, ribuan orang telah mendaki gunung tersebut. Mereka meninggalkan sampah-sampah pendakian, seperti tabung oksigen, tenda, dan sampah-sampah lainnya yang dapat menghambat perjalanan mereka.

Ketika sampah semakin banyak, pemerintah Nepal menerapkan peraturan bagi para pendaki untuk membawa serta sampah yang mereka bawa atau akan dikenakan denda. Kendati demikian, sampah-sampah pendakian masih terlihat di lereng-lereng Everest.

Ang Tshering, penyelenggara ekspedisi pembersihan Everest, mengatakan bahwa ini adalah tahun keempat upaya pembersihan Everest dilakukan. Apa dipilih sebagai pemimpin ekspedisi karena dia telah mendaki Everest setiap tahunnya sejak 1989.

Apa mengatakan bahwa dia pertama kali mendaki Everest ketika gunung itu masih diselimuti es dan salju. Sekarang akibat pemanasan global, ujar Apa, beberapa tempat di Everest terlihat bersih dari salju dan bebatuan dasar mulai terlihat. Hal ini akan membahayakan upaya pendakian di masa mendatang.

vivanews.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Berkomentarlah dengan bahasa yang baik dan sopan.