Minggu, 06 Maret 2011

Perang Sipil di Libya Kian Mencemaskan

Bagikan ke Teman:
Pasukan loyalis Moammar Khadafi 'menyapu' kota yang dikuasai oposisi di dekat Tripoli, keamanan pun diperketat di sekitar ibukota. Apalagi menyusul kabar, pasukan pemberontak dikabarkan berhasil merebut pelabuhan minyak di bagian timur.


Perebutan wilayah antara pro Khadafi dan pasukan pemberontak menimbulkan kekhawatiran, konflik Libya tak akan berlangsung dalam hitungan hari. Bisa berbulan-bulan.

Sejauh ini, Kadhafi telah berhasil mengambil kembali wilayahnya, yakni seluruh bagian timur negara Libya dan beberapa kota yang berada didekat ibu kota. Sementara, kekuatan oposisi begitu terbatas untuk bergerak ke wilayah pro-Khadafi.

Seperti dilansir oleh Associated Press (AP), Sabtu, 5 Maret 2011 malam, pasukan pro-Kadhafi melakukan serangan fajar yang mengejutkan 200.000 warga Zawiya, sebuah kota berjarak 50 kilometer di barat Tripoli.

Mereka menembak warga dengan mortir dan senapan. Seorang saksi berbicara kepada Associated Press melalui sambungan telepon, berlatar belakang suara tembakan dan ledakan. Dia mengatakan sejumlah gedung pemerintahan dan rumah dibom. Serangan itu memicu kebakaran, dan menurut saksi itu,  penembak jitu berada di mana pun, dan siap menembak siapa saja di jalanan, termasuk warga yang berani ke balkon rumahnya.

Pada sore hari, para pemberontak kembali ke pusat kota atau Martrys' Square saat para loyalis Khadafi tengah berkumpul di pinggiran kota dan menyegel pintu masuk dan keluar dari kota itu.

"Kami akan melawan mereka di jalanan dan tidak akan pernah menyerah selama Khadafi masih berkuasa," kata salah seorang pejuang pemberontak yang menolak menyebutkan namanya.

Sedangkan, para pemberontak anti-Kadhafi bernasib lebih baik di tempat lain. Mereka menguasai pelabuhan minyak kunci Ras Lanouf dari pasukan rezim pada Jumat malam. Menurut saksi mata, Ras Lanouf, yang lokasinya berada 140 kilometer sebelah timur pro-Kadhafi Sirte, jatuh ke tangan pemberontak usai terjadi pertempuran sengit dengan pasukan pro-rezim yang kemudian melarikan diri.

Salah satu pemberontak bernama Ahmed al-Zawi, mengatakan pertempuran itu dimenangkan setelah warga Ras Lanouf bergabung dengan pemberontak. "Kami memenangkan pertempuran ketika orang-orang bergabung dengan kami," kata al-Zawi.

Dia mengatakan 12 pemberontak tewas dalam pertempuran. Namun, petugas rumah sakit di kota Ajdabiya mengaku hanya lima pemberontak yang tewas dan 31 orang luka-luka dalam serangan itu.

"Mereka hanya mengikuti perintah. Setelah terjadi sedikit pertempuran, mereka melarikan diri," ujar pemberontak lainnya di Ras Lanouf, Borawi Saleh, seorang veteran tentara yang kini menjadi karyawan perusahaan minyak.

vivanews.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Berkomentarlah dengan bahasa yang baik dan sopan.